Cerita Pendek tentang Persona-ku yang Membosankan

Derit pintu bungalow menyentak kesadaran, dari lamunan pendek tentang desau angin pantai dan aroma klasik senyawa dimetilsulfida yang bercampur udara laut pagi ini. Aku sedang menikmati hasil rekayasa biologis dari Sang Maha Rahman yang mampu memberi segar samudera hanya dengan mengirimkan biota laut kecil Emiliania Huxleyi. Betapa DIA sering menunjukkan ke-Maha Besar-an melalui metaforistik ala Daud versus Goliath. Tak berbeda dengan sebuah virus yang mampu meluluhlantakan tatanan kemapanan dunia dua tahun ini.

Kita pun diterpa kebosanan itu sayang. Kita mulai berani keluar dan mendekati pantai Gili Trawangan yang terkenal ramai seperti bukan milik kita kaum pribumi. Irama langkah kuda penarik Cidomo mengurai kerinduan tentang kebebasan. Biasanya kita hanya bisa menikmati hostel atau pondok kecil, kali ini bungalow mewah itu terjangkau oleh tabungan 2 tahun bertapa dalam kerangkeng ketakutan dan kekhawatiran.

Aku beberapa kali berkata padamu bahwa ini bukan tentang pengingkaran terhadap realitas pandemi atau hilangnya ketakutan bahkan kepercayaan terhadap mahluk kecil titipan-NYA. Ini hanyalah cara kita mencari makna dari ini semua.

Lamunan itu terusik ketika disebalik pintu menyembul wajahmu yang segar, crimson red tipis menghias bibir indah itu meski semerbak parfum tipis tak mampu mengalahkan karya alga Emiliania Huxleyi. “Gak mandi ya, malah nongkrong cantik disitu”, ucapmu sambil menyibakkan rambut ikal tergerai di bahu sebelah kiri. Gestures andalan memang, meski tlah terbiasa namun tetap selalu mengesankan.

“Sudah lama tidak menikmati ini De, laut bagiku adalah pesanggrahan jiwa untuk melepaskan penat pikir dan rasa”, ujarku sambil menggeser posisi duduk menyediakan space di veranda daybed untuknya disampingku. Aku tau masih sangat luas space di beranda bungalow  VIP Pondok Santi Estate, ini. Selain veranda daybed couple space ada deretan kursi kayu panjang yang lebih sering dijadikan meja buat menyajikan breakfast  dibanding digunakan sebagai tempat duduk.

Kerlingan itu pasti tau i’tikad dari bergesernya posisi duduk ku. Dan masih seperti dulu tidak mudah untuknya memenuhi hasrat ku untuk menghirup aroma Dolce & Gabbana Light Blue lebih dalam. Godaan terunik itu adalah tidak memenuhi keinginan, namun tetap memberi ruang untuk mewujudkan. Kau pun mengambil duduk tepat bersilangan dengan selonjoran kaki ku.

Hmm.. pesona wanita yang tak mudah terkooptasi oleh gairah adam, meski tak berusaha memadamkannya. Impression yang tidak berubah sejak awal ku mengenalnya. Wanita cerdas dengan kemampuan pengendalian diri mumpuni, tak terpengaruh oleh intimidasi persona-ku tanpa kehilangan karakter humble nan childish.

Sambil menggapai terminal listrik dibelakang bantal daybed,  dipersiapkannya charger I-Phone yang batterai-nya yang mulai sering drop seiring waktu dan beban pemakaian. Selepas itu dimulailah keasikan bercengkrama dengan dunia virtual melalui portal layar gadget, sembari menikmati kebebasan alam kepulauan berhiaskan pohon-pohon kelapa yang ditanam dengan formasi by design oleh sang empu hotel.

Ada hal baru yang ku tau tentang mu belakangan ini. Dunia K-Pop mengintimidasi hari-hari mu wanitaku. Disaat lemah kesadaranku, hampir saja aku terjerembab pada sangka buruk bahwa kamu terlalu jauh terjerembab pada sisi childish-mu  yang teramat dalam. Kekaguman berlebihan terhadap aktor-aktor cantik nan fashionable itu. Hmmm kadang benar-benar cemburu dengan celotehan halu-nya.

“Abang pernah baca buku Map of the Soul-nya Murray Stein?”, sentak mu tiba-tiba.

“Nggak pernah, sudah sangat lama aku tak pernah tersentuh oleh buku-buku seperti itu, walaupun ingin sekali kembali ke era itu”.

“Baca deh keren banget message-nya.”

Dan setelah itu mengalirlah bagai air bah cerita yang sudah sangat kuduga. Bahwa ini pasti ada kaitannya dengan K-Pop. Kau ceritakan bahwa buku itu yang menginspirasi album group BTS membuat album Map of  The Soul hingga series 7 sekarang. Ada Jungkook disana salah satu pentolan BTS, idola kaum hawa tidak hanya anak-anak, remaja bahkan ibu-ibu kaum sign right turn the left. Para Army dan lainnya sangat militan, hingga mampu menggerakan PDB sebuah negara ke titik yang mengagumkan. Korean Wave dari sebuah negara bernama Korea Selatan.

Lancar Kau bercerita tentang Jung’s Map of the Soul yang ditulis oleh Murray Stein. Pemikiran Carl Jung yang hidup di era 1875-1961, seorang psikolog terkenal dari Swiss pelopor gagasan menjelajahi kehidupan batin seseorang untuk lebih memahami perilaku mereka. Jung berpendapat bahwa kepribadian manusia itu terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan paling luar disebut Persona yang diibaratkan public face, yang artinya bagian diri yang sengaja ditunjukkan kepada orang lain. Lapisan berikutnya disebut Anima atau Animus, yakni bagian untuk memahami lawan jenis. Berikutnya adalah Shadow berisi tentang hal-hal mengerikan yang ada dalam diri manusia. Lapisan terdalam menurut Jung adalah Self yang berkembang ketika manusia punya persepsi/penilaian yang akurat soal dirinya sendiri (self knowledge).      

Self merupakan titik ekuilibrium sekaligus bagian inti atas kepribadian manusia, titik dimana kita adalah kita sesungguhnya”, terasa ujung kerling itu menghujam ke pelupuk ku. Ada semacam laverage dari kata-kata mu wanita ku. Kau mencoba mengoyak lapisan kepribadianku dengan teori Jung.

Tersadar bahwa sebuah ternyata group pria-pria Aegyo ini mempunyai visi luar biasa dalam mengemas lagu-lagunya. Makna yang dalam dan berat dinyanyikan dengan genre kekinian campuran POP, HIP-HOP, R&B hingga EDM. Memang sulit bagi generasi 90-an seperti ku. Yang lebih mengenal Iwan Fals sebagai pembawa suara rakyat, atau Chrisye berbaur dengan Bimbo dalam hamparan sajadah panjang-nya.

“Hmm aku menua diantara para Bias Korean-mu De”, gumamku lirih.

Engkaupun tergelak sambil menutup mulut dengan tapak tangan berkulit putihmu.

“Abang tak perlu merasa tua atau berpura-pura muda dihadapan Ade”, ucapmu sambil menggeser posisi duduk sesuai keinginan awalku dan menyandarkan sisi kiri kepala ke bahuku.

“Merasa tua atau berpura-pura muda itu adalah tingkatan terluar dari peta jiwa, disebutnya Persona Bang”, ujarmu berbisik. 

Sejenak akupun tertegun.  Ya betapa seringnya kita selalu ingin tampak terlihat baik bagi semua orang atau oleh sekitar kita. Bahkan dengan lawan jenis adalah hanya upaya Animus yang menawarkan Persona tertentu untuk menguasai dan memiliki. Setelah itu semuanya menjadi Shadow. Kita sering rela kehilangan kejujuran kepada diri sendiri hanya untuk mempertahankan Persona.

“Ternyata mereka serius banget ya bikin lagunya,” gumamku sebagai pertanda penerimaan terhadap hal yang sempat ku tolak habis-habisan.

“Ya  iyalah itu yang bikin aku kesengsem Bang, mana pada cute banget lagi mereka”, kagum mu yang terus terang sejenak membuat perut sedikit bergolak.

“Coba ya nanti aku  pinjamin buku The Magic Shop, asyik deh. Itu juga jadi rangkaian  album BTS loh”.

“Nanti  deh, aku masih penasaran dengan  Map of The Soul”,  tukasku cepat.

Senyampang pengetahuanku selama ini kita hanya terkoneksi hanya dari instastory. Ya lebih dari 30 purnama sejak pertemuan terakhir otomatis aku hanya mengetahui kabarnya dari media sosial. Wanita ini sangat membatasi interaksinya di dunia maya. Dan akupun tak berupaya untuk mencari mu dalam keintiman detik demi detik, menit demi menit atau bahkan hari demi hari. Seperti pernah kutuliskan puluhan tahun silam.

Kadang-kadang Ku sms kamu..

Kadang-kadang tidak…

Kadang-kadang Kamu balas sms ku

Kadang-kadang Ga sama sekali..

Kadang-kadang Ku mention kamu..

Kadang-kadang tidak…

Kadang-kadang Kamu balas mention-ku

Kadang-kadang tidak sama sekali..

Kadang-kadang Ku telpon kamu..

Kadang-kadang tidak…

Kadang-kadang Kamu jawab telponku..

Kadang-kadang tidak sama sekali..

Tapi aku tak khawatir seberapa banyak kadang-kadang itu..

Kamu tetap “Teman dan sahabatku”

Bukan untuk Kadang-kadang.. Tapi untuk selamanya…

Yup begitulah kita. Begitulah yang ingin kubentuk tentang kita. Kita bukan lah sesuatu seperti yang ingin kita bentuk. Ataupun bentuk yang disepakati oleh mereka diluar sana. Berupaya tidak menolak bentuk, tetap tidak menyerah pada bentuk. Tidak pernah suudzon tentang harus saling memberi atau tidak memberi satu sama lain. Namun tetap husnudzon dalam rasa sayang yang tak berperi.

Seperti lapisan pertama Map of The Soul, monumen keberhasilan mu mengkooptasi ruang pikirku dengan aliran Korean-mu, yang digambarkan Murray Stein sebagai Persona. Persona adalah image yang kita inginkan untuk dilihat oleh orang lain. Kita berupaya menjadi seperti yang orang lain inginkan. Kita menjadi baik bukan karena keharusan tentang kebaikan, tapi tidak lebih sebagai bentuk kepasrahan bagaimana agar terlihat baik. Termasuk juga sebaliknya ketika berbuat hal yang tidak baik, hanya pasrah untuk sepakat dengan bentuk yang dianggap kebanyakan orang tidak baik.

Tersadarku bahwa kita adalah hasil dari kebosanan terhadap Persona. Ketika dunia bercerita tentang kebersamaan dan saling memiliki sebagai wujud rasa sayang, maka kita pun menjauh dari itu. Ketika dunia bercerita tentang berjarak, tak berbalas dan tak bersapa sebagai sebuah wujud kebencian maka kitapun menepis semua itu. Kita adalah kita sebagaimana apa adanya tentang kebersamaan dan keberjarakan. Teringatku pada catatan lama yang tersimpan rapi dalam memori.

Pagi itu diantara mata sembab mu kau kembali bertanya..

Yah.. kau memang senang sekali menanyakan…

Keraguanlah yang menghalangi ketulusan.. keihlasan dan kepasrahan…

Tapi bukan berarti aku melarangmu untuk bertanya..

Bukankah Musa menemukan NYA dengan bertanya dan bukankah Ibrahim mencari NYA dengan bertanya pula…

Justru kau akan menemukan NYA dengan bertanya….

Jadi bertanyalah selagi aku mampu menjawab..

“Apakah ada CINTA dalam ungkapan mu itu?” ujarmu lirih.. Hmmm… ahhh.. ternyata itukah yang menggugah pikirmu… Kegelisahan karena sebuah kata CINTA..

Bukankah sudah kukatakan aku ingin menyayangi mu tidak sebagai kekasih, isteri, adik atau apapun juga…

Ya hanya menyayangi..

Jangan kau paksa aku memberi bentuk rasa sayang itu dengan apapun..

Karena bentuk hanya akan memberi batas…

Apakah kau menyembah NYA karena mengetahui bentuk NYA…

DIA menjadi Maha karena kita tak akan pernah mengetahui bentuk NYA..

Karena DIA zat yang Qiyamuhu Binafsihi..

Zat yang tidak menyerupai mahluk apapun…

Rupa..wajah..tinggi..besar..isteri..pacar..kekasih adalah bentuk ..

Karena kita manusia yang selalu membatasi diri dari yang Maha Tak Terbatas.. Al Akbar..

Lagipula CINTA tidak ada dalam 99 nama terbaik NYA.. Asmaul Husna…

Hanya ada Arrahman dan Arrahim disana..

Demi merengkuh kasih dan sayangNYA…

Ijinkanlah aku menjadikan mu jalannya,. hanya itu..

Jadi jangan tanyakan adakah ada cinta disana…

            Tak sadar diskusi pagi ini mengantarkan sinar mentari pantai menyengat lembut ke sisi daybed ditempat dimana kami menjadi semakin dekat dalam fisik dan pemikiran. Suara tapak kaki bell boy sedikit mengusik keintiman pagi itu. Semerbak Caffe Latte, Nasi Goreng Ayam Plus Cheese Omelette, Dragon Fruit Juice Mix dan buah segar menusuk indera penciuman menyadarkan adanya rasa lapar yang sempat tersingkir oleh cerita para oppa.

SR – Cerpen pertama setelah 20 tahun. Gili Trawangan 29 Mei 2021.