TI = Teknologi Illahi

Pada satu session pelatihan eProcurement Kab. Banjar, muncul pertanyaan yang sangat-sangat penting menyangkut peran teknologi informasi. Bahkan sangat penting dalam hubungan antara teknologi informasi dengan nilai-nilai religius, khususnya Islam agama yang saya imani.

Pertanyaan itu adalah apakah dengan teknologi informasi semua proses dijamin tidak akan ada kecurangan? Apakah kemudian proses manual yang dilekati oleh embel-embel ‘e’ akan bersih dari rekayasa, kolusi dan nepotisme? Tentu si penanya adalah orang yang sangat ingin melihat terciptanya clean government serta terkuburnya korupsi, kolusi dan nepotisme di bumi Indonesia.

Sayang sekali jawaban saya waktu itu sangat-sangat tidak memuaskan si penanya, karena jawabannya adalah tidak! Teknologi informasi tidak menjamin tidak akan ada pengaturan, rekayasa, kolusi, nepotisme dan hal-hal lain dalam proses operasional satu sistem.

Kontan si penanya keberatan dan super kecewa serta merta mengeluarkan pernyataan, “lalu untuk apa cape-cape dan bermahal-mahal menyusun dan menyelenggarakan teknologi informasi, kalau tidak menjamin hilangnya penyakit kronis bangsa ini!”

Saya hanya bisa menjawab dengan sebuah cerita dimasa Rasulullah, yang dituturkan dalam sebuah hadits. Tentunya dengan narasi saya sendiri sehingga salah khilafnya terlebih dahulu saya minta maaf. Cerita bertajuk Penjahat Yang Masuk Islam ini hanyalah satu bagian dari sekian banyak cerita tauladan lainnya dan sangat mungkin telah kita kenal bersama.

Pada suatu hari seorang penjahat kambuhan datang kepada Rasulullah dengan menyatakan niatnya untuk memeluk agama Islam. “Ya Rasulullah hamba ingin sekali masuk Islam tapi saya tidak bisa sekaligus meninggalkan kebiasaan saya merampok, berzina dan berjudi, apa boleh ya Rasulullah?

Kemudian Rasulullah dengan lembut berkata, “Boleh”. Si penjahat ini langsung sumringah karena dia tidak harus meninggalkan kebiasaan buruknya tapi boleh memeluk Islam.

“Hanya satu syarat yang saya minta”, ujar Rasulullah kemudian.

“Apa itu ya Rasulullah”, ujar si penjahat penasaran.

“Saudara hanya tidak boleh berbohong!”

Syarat yang sangat mudah pikir si penjahat dan tanpa tedeng aling-aling ia sepakat.

Keesokan harinya Rasulullah bertemu dengan si penjahat ditengah keramaian pasar. Rasulullah langsung menyapa si penjahat kemudian bertanya, “apa yang kau lakukan tadi malam wahai saudaraku”.

Si penjahat langsung tersentak karena pertanyaan itu diajukan ditengah keramaian dan sesuai perjanjian dia tidak boleh berbohong. Dengan berat si penjahat mengakui kalau tadi malam dia berzina di rumah pelacuran, dan pengakuan ini didengar oleh orang banyak. Malu abis pokoknya ni penjahat. Kejadian ini berlangsung terus menerus setiap kali bertemu dengan Rasulullah.

Lama kelamaan si penjahat mulai mengurangi aktifitas bejatnya karena takut bertemu Rasulullah dan ditanyai. Sungguh hebat seorang penjahat kambuhan bisa berubah drastis hanya karena syarat tidak boleh berbohong!

Tentang Log System

Lalu apa hubungannya cerita ini dengan jawaban akan kemasygulan sang penanya di alenia ke empat tadi?

Kaitannya adalah, dengan teknologi informasi semua orang boleh berkolusi, korupsi, nepotisme atau perbuatan curang lainnya tapi dengan satu syarat harus tercatat. Artinya adalah ketika nanti ada seseorang atau lembaga seperti kejaksaan, KPK, Bawasda, BPK atau lainnya bertanya, “apakah dalam proses ada kecurangan”. Maka tanpa menjawab pun semua proses perhari, perjam bahkan perdetik telah kelihatan dan dapat dibaca dalam record system atau log system. Bukankah amsal boleh curang tapi tercatat sama dengan boleh berzinah tapi tidak boleh bohong.

Disinilah letak hakiki dari sebuah teknologi informasi. Teknologi informasi adalah teknologi dalam proses informasi. Jadi yang utama dalam teknologi informasi adalah bagaimana data-data yang ada dapat menjadi informasi yang valid, akuntabel dan transparan.

Untuk tujuan tersebut lalu bermunculanlah teknik-teknik yang akan terus beradaptasi sesuai perkembangan kebutuhan, namanya juga teknologi. Atau kalo mengambil trademarknya pak BJ Habibie semua harus hi-tech.

Teknologi security contohnya. Teknologi ini bertujuan agar log system yang ada tidak salah dalam mencatat proses karena ditumpangi oleh orang-orang atau tindakan yang tidak bertanggungjawab. Apabila teknologi security tidak ada maka apa yang menjamin bahwa data yang ada dalam log system adalah benar atau tidak bohong. Banyak lagi teknik-teknik yang tujuan utamanya adalah validitas data.

Satu hal lagi yang menguatkan bahwa teknologi informasi sangatlah religius. Log system adalah turunan langsung dari teknologi Allah SWT yang diterapkan kepada manusia. Mengapa saya katakan demikian?

Teknologi log system ingin meniru cara kerja malaikat Raqib dan Atid, meski tidak akan sesempurna kerja mereka. Malaikat pencatat amal ini secara konsisten mencatat setiap amal manusia sehingga nanti pada saat di padang Mahsyar saat Yaumul Hisab manusia tidak lagi dapat berpaling atas apa yang telah diperbuatnya.

Demikian halnya dengan log system, tugasnya adalah mencatat setiap tindakan yang dilakukan menggunakan sistem informasi. Dengan demikian apabila terjadi penyimpangan maka orang yang berbuat tersebut tidak akan bisa lagi berkilah ketika log system di tampilkan.

Dari penjelasan di atas mudahan-mudahan tidak salah saya memplesetkan akronim TI tidak hanya dalam pengertian teknologi informasi tapi juga Teknologi Ilahi. Semoga ijtihad saya benar dan apabila benar itu semata-mata hanya dari Allah Sang Maha Sempurna. Apabila salah adalah sepenuhnya kesalahan saya sebagai mahluk, mohon dimaafkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.